Sabtu, 21 Januari 2012

Kasih Ibu Sepanjang Massa

Pada postingan kali ini saya ingin menulis tentang Ibu, karena tidak tahu kenapa beberapa hari ini saya sering bermimpi bertemu Ibu saya. Tidak ada kata terucap, tidak ada belaian, hanya sebuah senyuman yang seolah mengandung banyak makna.

Mungkin saya adalah sebagian dari orang yang ditinggal Ibunda tercinta semenjak kecil. Sehingga terkadang ada rasa rindu yang mendalam setiap saya melihat orang yang kemana-mana masih bersama ibunya. Saya selalu membayangkan bahwa orang itu adalah saya yang berjalan dengan ibbu saya. Namun saya juga merasa tidak habis pikir ketika melihat seorang anak yang mengumpat ibunya, tidak peduli meski itu dilakukan di depan umum.


Dalam hati saya cuma bisa berucap, "kamu tidak tahu bagaimana rasanya jika ibumu meninggalkanmu, ketika ajal telah menjemputnya". Sungguh tiada kasih yang lebih mulia dan tanpa pamrih, selain kasih seorang ibu kepada anaknya. Seorang ibu takkan merelakan dirinya menyabung nyawa saat melahirkan kita, jika dia tidak punya harapan besar untuk memberikan yang terbaik buat kita.


Saat Ibu menelpon, percayalah dia selalu ingin tau hanya sedikit saja apa yang terjadi padamu. Janganlah kamu merasa risih.

Saat Ibu terdiam, percayalah kamu adalah orang yang slalu ingin dia dengar.

Saat Ibu tidak pernah membantah, percayalah kamu adalah cintanya.

Saat Ibu berkata “Ibu baik-baik saja” percayalah ada rahasia yang tersimpan didalam hatinya, bantulah dia.

Saat kamu merebahkan kepala ke bahunya, percayalah dia adalah sebuah sarang hangat yang mampu menghilangkan kedinginan

Saat kamu terjatuh, percayalah kedua tangannya akan menyambutmu tak perduli pada badai sekalipun.

Saat kamu lapar, haus, percayalah orang yang pertama sibuk di dapur menyiapkan sgala sesuatu untukmu adalah Ibu

Saat Ibu bilang “Rindu sekali denganmu Nak” percayalah, langit pun tak akan mampu menjadi batas rindunya kepadamu.

Saat Ibu menasehati kamu, percayalah itu kata mutiara yang tak akan pernah didapatkan oleh orang lain selain kamu.

Saat Ibu memarahi kamu, percayalah semua itu untuk mendidik kamu supaya kamu bisa menjadi diri apa yang kamu inginkan.

Saat Ibu meminta kamu menemaninya, percayalah, kamu adalah orang yang mampu membuat dia merasa nyaman kemanapun berlangkah. Janganlah malu untuk menemaninya kemanapun.

Saat Ibu berkata “tidak” untuk menunaikan sesuatu permintaan dari kamu, percayalah pada ahirnya akan kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan hingga waktunya nanti.

Saat kamu tersungkur karena sebuah batu, percayalah Ibumu yang akan menantang musim agar bisa meraih dan memelukmu kembali.

Dan biru langit tak akan mampu menjadi pembatas sebagai tingginya rasa hormat untuknya serta pada biru laut pun tak akan mampu menampung jutaan pujian yang terharuskan untuk Ibumu.

Kelak, tak ada paling rindu selain dirinya dan tak ada paling luka selain airmatanya.
Jika saat ini ibumu masih bisa menemanimu, lakukanlah yang terbaik yang bisa kamu lakukan untuk sekedar memberi kebahagiaan sebagai balas jasanya kepada kita.

1 komentar:

Posting Komentar